Kamis, 16 April 2015

Ibadah yang baik

Kajian wasiat Rasulullah 
Oleh Ustadz Afifi Abdul Wadud
masjid pogung raya, Kaliurang, Sleman. 
Ibadah yang baik. 

Kata Rasulullah kepada muadz, jangan pernah engkau meninggalkan setiap akhir shalatmu, doa ini, ya Allah tolonglah aku bisa bersyukur kepadamu, berdzikir kepadku, dan memperbaiki ibadah kita. 

Nabi katakan shalat kita ada yang 1/10. 1/9 dan seterusnya. Sangat jauh kita dari kualitas ibadah yang baik, benar-benar baik. Diantaranya khusyuknya kita, sehingga sangat banyak ibadah yang kita lakukan tidak berdampak. Tidak menggores dihati kita. Kenapa? Karena buruknya ibadah kita. Seandainya ibadah kita berkualitas, akan memberikan dampak yang bagus kepada kita. Karena sesungguhnya seluruh ibadah yang Allah berikan kepada kita mempunyai dampak kepada jiwa, agar jiwa itu bersih. 
Misalnya shalat, sesungguhnya shalat mencegah pelakunya dari perbuatan fasyah dan mungkar. Ini jika shalatnya benar, shalatnya berkualitas. Akan mencegah pelakunya dari perbuatan kekejian dan kemungkaran. Berapa banyak kita shalat, namun kita masih berbuat keji dan mungkar. Ini menunjukkan shalat dia kurang berdampak, atau bahkan tidak berdampak sama sekali. 

Demikian pula kita seberapa banyak shalat kita yang nabi katakan, wahai bilal, istirahatkan kita dengan shalat. Shalat kita jika baik, seakan ia beristirahat dengan shalat, ia akan tenang, hatinya akan sejuk, sehingga ia mencintai amalan shalat yang ia lakukan. Akan tetapi berapa banyak praktik yang kita lakukan shalat menjadi berat bagi kita. Sehingga tidak merasakan dalam shalat itu kesejukan, kenyamanan. 

Diantara shalat yang membuat kita tidak nyaman, kita tidak betah jika berlama-lama shalat. Ini menunjukkan kita tidak menikmati shalat, atau menikmatinya cuman sedikit. Orang itu kalau makan ia nikmati, ia akan makan dengan lahap, tapi kalau ia tidak menikmati maka dia nek. Sehingga tidak ada minat lagi menghabiskan makanan. 
Demikian pula puasa kita, haji kita, semuanya baru pada tingkatan, mengugurkan kewajiban. Tapi semua ini tidak berdampak sama sekali. Sebelum haji rentenir, sesudahnya tambah rentenir, kata dia, ini berkahnya haji. Ini bukan berkahnya haji, tapi hajinya gak fungsi sama sekali. Jika hajinya itu berbekas, maka semakin baik ia. Diantara bagus kualitas haji seseorang adalah senang memberikan makan kepada orang. 

Baiknya beribadah itu muncul dari rasa Ihsan, ihsan dalam ibadah seperti yang dingkapkan Rasulullah dalam hadis Jibril. Ihsan antabudallah, kaanakun tarahu, fii inlaam takuntarahu, fainnahu yarahu.  

Disini ada dua tingkatan Ihsan. 
1. Anda beribadah kepada Allah seakan-akan anda melihat Allah. Tingkatan ini dikatakan para ulama adalah musyahadah.
Di dunia ini anda tidak akan bisa melihat Allah sebagaimana Musa yang ingin melihat Allah, ia pingsan. Allah janjikan kelak di akhirat, manusia, ahlu jannah akan melihat Allah. Ini adalah kenikmatan yang paling tinggi yang mengalahkan semua kenikmatan jannah yang mengalahkan segala kenikmatan. 
Aku sediakan kepada hamba-Ku yang salih. Segala kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia di dunia.
Seandainya anda pernah melihat segala keindahan yang ada di jagat raya ini, maka segala kenikmatan yang anda lihat tidak pernah anda lihat di surga. 
Dan kenikmatan yang tidak pernah dengar, dan kenikmatan yang pernah terlintas di hati manusia. Akan tetapi ada kenikmatan yang diberikan ahlu jannah, yakni, kenikmatan melihat wajah Allah. Bagi orang yang mereka di dunia berbuat Ihsan kepada Allah dan kepada makhluk bagi mereka adalah surga dan tambahan. Yang dimaksudkan dengan tambahan adalah melihat wajah Allah. 
Rasulullah shallahu alaihi wa salam mengatakan ketika melihat wajah Allah seperti melihat bulan purnama, apakah kalian melihatnya dengan berdesak-desakan? Bukan berarti wajah Allah seperti bulan purnama, akan tetapi tidak berdesak-desakan dalam melihat wajah Allah. 
Pada hari ini ahlu jannah wajahnya berseri-seri karena pancaran kebahagiaan dari hatinya. Karena mereka lihat wajah Allah. Pada hari itu orang kafir terhalang dari melihat wajah Allah. Kata Imam syafii, ini menjadi dalil seorang Mukmin akan melihat wajah Allah.mdianatara azab orang kafir adalah terhalang melihat wajah Allah. Dan ini adalah kenikmatan paling puncak melihat wajah Allah. Seandainya ada pertanyaan, apakah sama, keseringan ahlu jannah melihat wajah Allah? Jawabnya tidak! Tergantung seringnya ia merindukan Allah. Inilah pentingnya kita belajar tentang Asma'ul Husna. 

Rasulullah pernah ditawari Allah, apakah ia ingin tinggal ditengah sahabatnya atau bertemu dengan Allah. Nabi lebih memilih bertemu dengan alah. Inilah kerinduan yang mengalahkan kerinduan dengan segala kerinduan. 

2. Seandainya anda tidak melihat Allah, Allah melihat anda. Tingkatan ini disebut muraqabah. 
Ini akan menjadi penghalang kuat, ia bermaksiat dengan Allah. Ia akan merasa diawasi Allah. Dia akan gampang meninggalkan maksiat karena Allah melihatnya. 

Ihsan adalah tingkatan beragama yang paling tinggi, yang akan menentukan baik atau bagusnya ibadah seseorang kepada Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar