Jumat, 10 April 2015

Khosiyah dan muraqabahnya para salaf

Kajian 'Aina nahnu min akhlaqi salaf
Bab khosiyah dan muraqabah

Oleh Ustadz Afifi Abdul wadud
Masjid AL ikhlas, utara fakultas peternakan UGM, Sleman.
Setiap hari Senin dan Jumat bada maghrib-isya.

Salaf dan rasa khosiyah mereka kepada Allah dan rasa muraqabah mereka kepada Allah. 

Khosiyah sama dengan khauf. AL khauf memiliki makna takut, khosiyah juga memiliki makna takut. AL khauf rasa takut secara umum pada apa dan siapapun, dengan ia tahu atau tidak tahu yang ia takutkan itu bagaimana. Kadang ada orang tidak tahu kenapa ia takut. 

Adapun khosiyah, rasa takut yang disertai dengan ilmu, yakni pengetahuan dengan yang ia takuti. Oleh karena itu Allah peruntukannya kata khosiyah ini untuk para ulama. Sesungguhnya yang benar-benar mewujudkan rasa takut yang benar hanya para ulama. Karena ulama ia mengetahui Allah dengan sifat yang telah dijelaskan oleh Allah. Rasa takut yang muncul karena ilmu tentang ia takuti ini yang dinamakan khosiyah. 

Allah memuji orang yang memiliki rasa takut kepada Allah dan kepada ancaman Allah. Rasa takut kepada Allah hanya tumbuh dari orang yang mengenal, mengetahui siapa itu Allah, melalui nama dan sifat Allah yang telah diajarkan kepada kita sehingga ia tahu dan tergambar sempurna keagungan Allah, maka ini yang memunculkan rasa takut yang disertai dengan ilmu. 

Seperti dalam surat Al mukminun ayat 57-61. Sesungguhnya orang yang memiliki rasa takut kepada Allah rabb mereka, dan Orang-orang yang mereka terhadap ayat Allah  mereka beriman.Tidak semua orang mengimani ayat-ayat Allah. 

Tidak ada yang sempurna mengimani quran dan sunnah sebagaimana ahlu sunnah. Keimanan ahlu bidah adalah keimanan yang pilih-pilih dan mengikuti selera, seandainya ia mendapatkan ayat yang tidak sesuai selera ia simpan, atau ia menjelaskan sesuai seleranya, ia melakukan perubahan makna dari firman Allah. Contoh tentang yang menyikapi nama dan sifat Allah. Ada mauthilah dan ada kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Sehingga orang yang beriman dengan ayat Allah dengan benar adalah ahlu sunnah. Dan mereka orang yang tidak menyekutukan Allah dan orang yang mereka telah menunaikan berbagai macam amal ketaatan. Namun dengan banyaknya amalan hati mereka bergolak seandainya amal mereka tidak diterima Allah. 

Sehingga Aisyah pernah menanyakan kepada Rasulullah tentang ayat tersebut.  Ya Rasulullah apakah mereka itu orang yang minum khamr atau mencuri sehingga mereka takut. Rasulullah jawab bukan. Mereka bahkan yang shalat, berpuasa, sedekah tapi bersama dengan itu semua ada rasa takut seandainya perasaan amal itu tidak diterima. Orang seperti ini ia disatu sisi ia akan menyempurnakan amalnya sesempurna mungkin, dan sisi lainnya dia adalah orang yang benar-benar muhabasah tentang apa yang ia lakukan. Apakah yang ia lakukan betul-betul membawa keridhaan Allah atau ada cacat yang bisa mengurangi amal atau membatalkan amal. 

Imam Hasan AL Basri, berkata, mereka adalah orang yang telah mengamalkan berbagai macam ketaatan. Dan mereka orang yang giat bersemangat, memiliki mujahadah dalam mengamalkan amal tersebut, dan bersama itu ia terdapat kekhawatiran amal tersebut ditolak Allah. Maka beliau berkata, sesungguhnya orang Mukmin itu mengumpulkan antara berbuat Ihsan dan rasa takut. Demikian orang munafik, mereka mengumpulkan dua hal, buruknya amal yang ia lakukan, tapi bersama itu ia ada rasa aman. Hatinya aman seakan ia yakin akan selamat di hari kiamat. Padahal ia tidak memiliki amalan yang berkualitas dihadapan Allah. 

Allah mensifati wali Allah, mereka yang memasuki kampung akhirat, ketika setelah kematian, mereka tidak takut dan tidak sedih. Orang yang di dunia memiliki rasa takut kepada Allah maka di akhirat kelak Allah berikan keamanan. 

Orang yang merasa aman dan nyaman di dunia, dia tidak shalat, tidak puasa merasa aman dan nyaman, maka hari kematian dan setelahnya akan penuh dengan ketakutan. 

Di katakan oleh para ulama kita, barangsiapa yang hari ini punya rasa takut kepada Allah maka ia shalat, ia puasa, zakat, ia belajar agama, ini adalah cerminan ia memiliki rasa takut kepada Allah, maka hari esok ia akan aman. Maka barangsiapa yang merasa aman, maka besok dia akan diliputi dengan rasa takut. 

Khosiyahtullah merupakan pilar agama, pilar ubudiyah. 

Sebagaimana perkataan para salaf kita, barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut semata maka dia khawarij. Seakan tidak ada harapan kepada Allah. 

Barangsiapa yang beribadah dengan harapan semata, ia murjiah, dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya berdasarkan cinta, ia munafik. Barang siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut, harapan dan juga cinta maka ia adalah orang yang bertauhid kepada Allah. 

Sehingga hal ini membuat dia menahan diri dari larangan Allah dan melakukan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Tidak ada yang manusia itu paling takuti yang membuat ia semakin mendekat kecuali Allah. 

Rasa takut memiliki buah yang sangat indah. Rasa takut membuat Allah akan mengujinya. 
Dalam AL maidah ayat 94. Allah katakan, wahai orang yang beriman sungguh benar-benar kami akan menguji kalian dengan sesuatu. 
Ujian Allah pasti berkaitan dengan keimanan seseorang dan ujian Allah dihadirkan sedikit dengan sedikit. Diantara ujian adalah dimudahkan berbuat maksiat dan ia tinggalkan maksiat karena ia takut kepada Allah. Contoh dalam ayat ini adalah yaitu para sahabat dalam keadaan Ihram, Diantara larangan Ihram adalah berburu binatang, justru pada saat itu Allah datangkan binatang buruan yang sangat banyak. Ini dilakukan agar Allah mengetahui mana orang yang benar-benar takut kepada Allah. 

Rasa takut memiliki tingkatan, dan buah yang sangat indah. Rasa takut ini akan memberikan ia dorongan dalam ikhlas beramal. Rasa taku yang ada didalam dada seseorang akan mendorong seseorang ikhlas dalam beramal. Rasa takut juga akan mewujudkan amal salih dalam kehidupan. Para pedagang akhirat adalah orang yang bersemangat dalam beramal. Rasa takut mendorong memanfaatkan dunia untuk merasa keuntungan besar di akhirat. Orang yang betul-betul punya rasa takut ia akan segera mempersiapkan diri selamat dari azab Allah. Barang siapa yang segera beramal ia akan sampai kepada tujuan yang ia maksudkan.  


Diantara yang bisa menumbuhkan rasa takut seorang hamba kepada Allah, banyak cara:
1. Dia mengingat terhadap keagungan Allah subhanahu wa ta'ala. Diantara sebab rasa takut hamba adalah memiliki keagungan Allah melalui cipataan Allah. Orang yang berfikir langit yang tujuh, Allah menegakkan langit tanpa tiang, Allah membentangkan bumi. Allah memiliki arsy yang sangat besar. Bumi yang kita tempati adalah bumi yang satu dan luas, sehingga manusia berada di muka bumi di berbagai benua dan negara. Bumi yang tujuh dan langit yang tujuh dibandingkan dengan kursi Allah seperti lempengan logam kecil diletakkan di sahara. Kursi Allah di bandingkan dengan arsynya Allah juga seperti itu. Arsy ini disanggah oleh 8 malaikat. Malaikat penyangga arsy. Ketika manusia memikirkan keagungan makhluk ia akan memikirkan keagungan Allah. Allah menakut-nakuti kalian dengan keagungan Allah. Kaum nabi Nuh yang mengingkari dakwah nabi Nuh, nabi Nuh mengatakan kalian wahai kaumku tidak mengagungkan Allah dengan sebaik-baik pengagungan, padahal bumi akan digenggam oleh Allah dan bumi dihancurkan dengan tangan kanan Allah pada hari kiamat. 

2. Melakukan tadabbur terhadap kalam Allah. Ia menyimak, memahami terhadap kalam Allah yakni AL quran. Barangsiapa yang mempelajari AL quran dengan sepenuh hati dengan pemahaman yang benar, maka akan mengantarkannya kepada ketakutan kepada Allah. Imam Ibnu qayim mengatakan, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hamba dalam kehidupan di dunia sampai akhirat, tidak ada yang lebih dekat untuk mengantarkan ia dari keselamatan, kecuali dengan tadabbur, memikirkan dalam-dalam AL quran. Ia pun mengumpulkan mengerahkan pikiran untuk memahami ayat-ayat AL quran apa yang terkandung di dalamnya. 
Imam ibnul jauzi berkata, wallahi, seandainya seorang Mukmin yang benar-benar berakal, ia membaca surat AL hadiid, dan membaca akhir surat AL Hasyr, dan ia membaca ayat kursi dengan tadabbur, membaca surat AL ikhlas, dengan penuh perenungan, benar-benar hatinya akan di buat rasa takutnya kepada Allah. Demikian juga siapa yang melakukan tadabbur dengan kalam dan sirah Rasulullah akan menimbulkan rasa takut kepada Allah. Karena Rasulullah adalah tuannya para pemimpinnya orang bertaqwa, dan imannya orang yang takut dan manusia yang paling memiliki rasa takut kepada Allah
3. Merasakan ada taksir dalam kewajiban ibadah yang dilakukan. Merasa kekurangan atas ibadah yang ia lakukan. 

4. Rasa takut seandainya amal dia tidak diterima oleh Allah. Yang Allah hanya menerima amal dari orang yang bertaqwa.

5. Mengingat dosa yang telah lalu yang telah ia lakukan. Kalau mau ingat jangan ingat kebaikan namun ingatlah dosa kita. 

6. Memikirkan tentang tempat kembali kota, bahwa kita akan mati dan akan memasuki alam barzah. Seandainya tidak diterangi oleh amala saleh dan tidak di luaskan oleh Allah niscaya ia dapat tempat yang buruk, sampai ia dibangkitkan Allah. 

7. Mengingat tentang AL maut yang akan menjumpai dia sewaktu-waktu. Sehingga ia segera mempersiapkan diri.

8. Memikirkan tentang kubur

9. Memikirkan tentang dahsyatnya kiamat. 

10. Memikirkan tentang neraka

11. Memikirkan tentang sifat dengan orang yang sifatnya menyelamatkan, bergaul dengan orang salih. 

12. Memikirkan khawatirnya terhalang ia dengan taubat dengan dosa dia

13. Memikirkan kalau ia mati dalam keadaan suul khatimah.

14. Membaca sirah orang yang memiliki rasa takut. 


Dimana kita dibandingkan para salaf dalam akhlak. 

Bab khosiyah dan muraqabah itu dimasukkan kedalam bab akhlak. Akhlak yang berkaitan dengan Allah, artinya akhlak itu bukan hanya berkaitan hamba dengan makhluk saja tetapi juga berkaitan dengan Allah. Pendidikan agar akhlak hamba dengan Allah ini adalah pendidikan aqidah. Ini yang akan membawa manusia dalam penghambaan yang sempurna. 

Tingkatan agama seseorang paling rendah, adalah Islam diatasnya iman diatasnya Ihsan dan ini menentukan kualitas amaliyah yang dimiliki seorang. 

Seorang yang di tataran paling rendah yakni Islam ia lebih menampakkan amalan dhohir, yang mana ia belum sampai pada tingkat berikutnya yakni iman. Sehingga pernah datang seorang Arab Badui kepada Rasulullah, lalu ia mengatakan, kami beriman ya Rasulullah. Maka Allah katakan kepada nabi, katakanlah belum, anda belum beriman, akan tetapi katakanlah kami telah Islam. Pelajaran dari kisah ini, disini Allah membedakan Islam dengan iman. Iman adalah tingkatan yang lebih khusus, lebih tinggi dari Islam. Iman itu apabila nilai amalan dia telah merasuk dalam hati dia. Kemudian ada yang namanya Ihsan, yang lebih tinggi lagi dan lebih berkualitas lagi. Dimana Ihsan itu terkandung didalamnya musyabaqah dan muraqabah yakni Ia memiliki kerinduan kepada Allah Dan rasa muraqabah, rasa selalu dalam pengawasan oleh Allah. 

Sahabat Ibnu mas'ud pernah mengatakan, tentang sesuatu yang menunjukkan kepribadian orang yang memiliki cerminan muraqabah kepada Allah. 
Beliau ingatkan kepada kita, "wahai manusia, kalian berada dalam lingkaran perjalanan siang dan malam." Berjalan, bukan berhenti, beliau ingatkan tentang kita tentang waktu, waktu dimana  menurut pandangan beliau sangat berharga, karena waktu adalah modal utama. 

Lalu beliau mengatakan, berkaitan dengan waktu, "tidak ada penyesalan yang aku rasakan seperti penyesalanku ketika matahari tenggelam, hari itu, jatah umurku berkurang sedangkan Amalku tidak bertambah." Beliau sangat menyesalkan, dimana dengan waktu sebagai hal yang berharga dalam kehidupannya. Hilangnya waktu, maka hilangnya modal yang pokok dalam kehidupannya.

 Kemudian ia kembali melanjutkan perkataannya , "Anda wahai manusia selalu dibatasi dnegan ajal anda. Siang malam mendekatkan anda kepada ajal. " Ini menunjukkan muraqabahnya beliau dan waspadanya beliau sehingga beliau mengingatkan pada kita waktu yang berjalan dan ajal. Beliau katakan, "semua amalan tersimpan, tidak ada amalan yang terlupakan oleh Allah, dan nanti akan digelar kitab catatan dan Allah katakan kepada pemilik buku, bacalah wahai hamba kitabmu sendiri. Hari ini andalah yang menjadi penghisab (penghitung) amal anda sendiri."

Ketika orang mujrim, melihat kitab mereka, maka orang mujrim ketakutan yang sangat luar biasa kepada kitab catatan yang Allah berikan. Lalu ia katakan aduhai celakanya kitab apa ini? Kitab yang memuat semua catatan, tidak yang kecil dan tidak yang besar tercatat dalam kitab tersebut ketika ia menghadap Allah. Hari dimana hamba mendapat kitab ditangan kanan atau kirinya.  Orang yang menerima kitab dengan tangan kanan ia akan berbangga dan bergembira dengan kitab yang Allah berikan kepadanya. Ia berbangga karena, ia yakin seyakin-yakinnya ada hisab sehingga ia melakukan amalan terbaik. Maka sekarang ia berada Disurga yang tinggi buah-buahnya didekatkan padanya, ia menikmati kenikmatan yang sangat menyenangkan. Ini adalah hasil perbuatannya dimasa yang lalu. Adapun orang yang menerima catatan dengan tangan kirinya, maka mereka mengatakan, aduhai seandainya aku tidak menerima kitab catatan amal ini. Dan aku tidak tahu, apa itu hisab dan aku tidak sangka akan terjadi hisab yang demikian. Ia mengatakan aduhai seandainya kematian yang menyelesaikannya, akan tetapi kematian adalah pintu hari akhirat, maka ia menyesalinya. Lalu Allah perintahkan malaikat untuk merangkainya dan melemparkannya ke dalam jahanam.
Maka Ibnu mas'ud mengingatkan tentang adanya hisab dan ajalnya datang secara mendadak. Kematian menjemput siapa saja, tidak peduli umur berapapun. 

Lalu Ibnu mas'ud mengatakan "barangsiapa yang menanam kebaikan-kebaikan maka ia akan memetik hasilnya, akan panen dan akan berbahagia dengan hasil panennya tersebut. Barangsiapa yang di dunia ia menanam keburukan, maka ia akan merasakan penyesalan, akan tetapi penyesalan yang tidak bermanfaat, ia akan mengeluh, dengan keluhan yang tidak berguna. Dan orang lain tidak akan bisa mengambil jatahnya orang yang lambat." Ini berkaitan dengan takdir, bahwa kita telah ditetapkan. Orang yang berlambat amal, ia tidak akan dapatkan kecuali apa yang ia ditakdirkan kepadanya. Rasululah mengajarkan, bertaqwalah anda kepada Allah, dan perbaguslah cara anda mencari Rizki Allah, jangan sampai lambatnya Rizki kepada anda, anda menempuh jalan yang haram. 

Diantara perkataan Ibnu mas'ud, ia mengatakan "barangsiapa yang Allah berikan kebaikan baginya, Allahlah yang berikan kebaikan pada dia. Barang siapa yang Allah jaga dari keburukan, maka Allahlah yang menjaganya." Ini menunjukkan bahwa mengembalikan segala sesuatu kepada allah. Sehingga kalimat laa hawla wala quwatul illa billah, menunjukkan pengetahuan hamba yang sempurna dan seluruh kekuatan dalam diri allah, dan dalam kebaikan pula seandainya tidak ada pertolongan allah ia tidak bisa melakukan kebaikan. Sehingga ia dimudahkan allah dalam perkara-perkara kebaikan. Beliau kembali melanjutkan perkataannya "Orang-orang bertaqwa adalah pemimpin yang terhormat, yang akan dihargai di dunia dan di akhirat. Di dunia, ketaqwaan akan dihargai orang, di akhirat akan dimuliakan allah, dan para malaikat. Dan para ulama, dibutuhkan manusia, akan tetapi manusia belum tentu dibutuhkan ulama. Orang kaya, miskin, laki-laki, wanita butuh kepada ulama. Akan tetapi ulama belum tentu membutuhkan kita, sehingga ulama adalah pemimpin orang bertaqwa. Sehingga kita perlu bergaul dengan para ulama agar bisa dibimbing oleh mereka." 

Pelajaran yang sangat Agung untuk kita renungkan dari perkataan lain para salaf, yakni bakr ibn Abdillah, beliau mengatakan "kalau anda melihat orang yang lebih tua, maka ucapkan dari dalam diri anda, orang ini telah mendahuluiku dengan iman dan amal alih maka lebih baik dariku. Kalau anda melihat orang yang lebih rendah dari anda umurnya, maka katakan untuk diri anda, aku telah mendahului dia dalam hal dosa dan maksiat, maka ia lebih baik dari aku, maka dosanya lebih sedikit dariku." Ucapan ini hasil muraqabah, hasil rasa takut kepada Allah dan tidak ada yang ia banggakan. Lalu ia melanjutkan "Kalau ada orang yang memuliakanku, maka katakanlah ia sesungguhnya  adalah orang yang memiliki keutamaan, karena keutamaan akhlaknya hingga ia memuliakanku." Dan juga ia katakan "Seandainya ada orang yang meremehkan anda, maka katakanlah inilah dosa yang kuperbuat sehingga orang merendahkanku."

Semoga bermanfaat. 
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar