Tampilkan postingan dengan label kajian ustadz afifi Abdul wadud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian ustadz afifi Abdul wadud. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

Ibadah yang baik

Kajian wasiat Rasulullah 
Oleh Ustadz Afifi Abdul Wadud
masjid pogung raya, Kaliurang, Sleman. 
Ibadah yang baik. 

Kata Rasulullah kepada muadz, jangan pernah engkau meninggalkan setiap akhir shalatmu, doa ini, ya Allah tolonglah aku bisa bersyukur kepadamu, berdzikir kepadku, dan memperbaiki ibadah kita. 

Nabi katakan shalat kita ada yang 1/10. 1/9 dan seterusnya. Sangat jauh kita dari kualitas ibadah yang baik, benar-benar baik. Diantaranya khusyuknya kita, sehingga sangat banyak ibadah yang kita lakukan tidak berdampak. Tidak menggores dihati kita. Kenapa? Karena buruknya ibadah kita. Seandainya ibadah kita berkualitas, akan memberikan dampak yang bagus kepada kita. Karena sesungguhnya seluruh ibadah yang Allah berikan kepada kita mempunyai dampak kepada jiwa, agar jiwa itu bersih. 
Misalnya shalat, sesungguhnya shalat mencegah pelakunya dari perbuatan fasyah dan mungkar. Ini jika shalatnya benar, shalatnya berkualitas. Akan mencegah pelakunya dari perbuatan kekejian dan kemungkaran. Berapa banyak kita shalat, namun kita masih berbuat keji dan mungkar. Ini menunjukkan shalat dia kurang berdampak, atau bahkan tidak berdampak sama sekali. 

Demikian pula kita seberapa banyak shalat kita yang nabi katakan, wahai bilal, istirahatkan kita dengan shalat. Shalat kita jika baik, seakan ia beristirahat dengan shalat, ia akan tenang, hatinya akan sejuk, sehingga ia mencintai amalan shalat yang ia lakukan. Akan tetapi berapa banyak praktik yang kita lakukan shalat menjadi berat bagi kita. Sehingga tidak merasakan dalam shalat itu kesejukan, kenyamanan. 

Diantara shalat yang membuat kita tidak nyaman, kita tidak betah jika berlama-lama shalat. Ini menunjukkan kita tidak menikmati shalat, atau menikmatinya cuman sedikit. Orang itu kalau makan ia nikmati, ia akan makan dengan lahap, tapi kalau ia tidak menikmati maka dia nek. Sehingga tidak ada minat lagi menghabiskan makanan. 
Demikian pula puasa kita, haji kita, semuanya baru pada tingkatan, mengugurkan kewajiban. Tapi semua ini tidak berdampak sama sekali. Sebelum haji rentenir, sesudahnya tambah rentenir, kata dia, ini berkahnya haji. Ini bukan berkahnya haji, tapi hajinya gak fungsi sama sekali. Jika hajinya itu berbekas, maka semakin baik ia. Diantara bagus kualitas haji seseorang adalah senang memberikan makan kepada orang. 

Baiknya beribadah itu muncul dari rasa Ihsan, ihsan dalam ibadah seperti yang dingkapkan Rasulullah dalam hadis Jibril. Ihsan antabudallah, kaanakun tarahu, fii inlaam takuntarahu, fainnahu yarahu.  

Disini ada dua tingkatan Ihsan. 
1. Anda beribadah kepada Allah seakan-akan anda melihat Allah. Tingkatan ini dikatakan para ulama adalah musyahadah.
Di dunia ini anda tidak akan bisa melihat Allah sebagaimana Musa yang ingin melihat Allah, ia pingsan. Allah janjikan kelak di akhirat, manusia, ahlu jannah akan melihat Allah. Ini adalah kenikmatan yang paling tinggi yang mengalahkan semua kenikmatan jannah yang mengalahkan segala kenikmatan. 
Aku sediakan kepada hamba-Ku yang salih. Segala kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia di dunia.
Seandainya anda pernah melihat segala keindahan yang ada di jagat raya ini, maka segala kenikmatan yang anda lihat tidak pernah anda lihat di surga. 
Dan kenikmatan yang tidak pernah dengar, dan kenikmatan yang pernah terlintas di hati manusia. Akan tetapi ada kenikmatan yang diberikan ahlu jannah, yakni, kenikmatan melihat wajah Allah. Bagi orang yang mereka di dunia berbuat Ihsan kepada Allah dan kepada makhluk bagi mereka adalah surga dan tambahan. Yang dimaksudkan dengan tambahan adalah melihat wajah Allah. 
Rasulullah shallahu alaihi wa salam mengatakan ketika melihat wajah Allah seperti melihat bulan purnama, apakah kalian melihatnya dengan berdesak-desakan? Bukan berarti wajah Allah seperti bulan purnama, akan tetapi tidak berdesak-desakan dalam melihat wajah Allah. 
Pada hari ini ahlu jannah wajahnya berseri-seri karena pancaran kebahagiaan dari hatinya. Karena mereka lihat wajah Allah. Pada hari itu orang kafir terhalang dari melihat wajah Allah. Kata Imam syafii, ini menjadi dalil seorang Mukmin akan melihat wajah Allah.mdianatara azab orang kafir adalah terhalang melihat wajah Allah. Dan ini adalah kenikmatan paling puncak melihat wajah Allah. Seandainya ada pertanyaan, apakah sama, keseringan ahlu jannah melihat wajah Allah? Jawabnya tidak! Tergantung seringnya ia merindukan Allah. Inilah pentingnya kita belajar tentang Asma'ul Husna. 

Rasulullah pernah ditawari Allah, apakah ia ingin tinggal ditengah sahabatnya atau bertemu dengan Allah. Nabi lebih memilih bertemu dengan alah. Inilah kerinduan yang mengalahkan kerinduan dengan segala kerinduan. 

2. Seandainya anda tidak melihat Allah, Allah melihat anda. Tingkatan ini disebut muraqabah. 
Ini akan menjadi penghalang kuat, ia bermaksiat dengan Allah. Ia akan merasa diawasi Allah. Dia akan gampang meninggalkan maksiat karena Allah melihatnya. 

Ihsan adalah tingkatan beragama yang paling tinggi, yang akan menentukan baik atau bagusnya ibadah seseorang kepada Allah. 

Empat pertanyaan pada hari kiamat, tentang jasad!


Kajian empat pertanyaan pada hari kiamat
Oleh; ustadz Afifi Abdul Wadud
Masjid AL jihad, Dayu, Kaliurang, Sleman. 

Pertanyaan keempat pada hari kiamat yang Allah tanyakan kepada kita kelak adalah tentang Jasad kita. Jasad kita akan ditanyakan dan dalam hal apa yang kita lelahkan. 

Dalam pertanyaan yang keempat ini manusia ada dalam beberapa keadaan:
Keadaan
1. Orang yang melelahkan badannya dalam berbagai macam bentuk amalan. 

Keadaan ini terbagi menjadi dua:

1. Orang yang capek dan mendapatkan amalan tersebut
Orang yang membuat capek dirinya dalam perkara ketaatan kepada Allah. Jiwa kita sebagaimana Imam syafii menujukkan sebuah nasihat, jiwa ini seandainya tidak disibukkan dnegan perkara yang haq, maka seseorang akan disibukkan dengan perkara yang batil. Maka berbahagialah jika kita merasa lelah, akan tetapi semua kelelahan yang ia dapatkan dalam rangka amal ketaatan. Satu contoh diantaranya, orang capek karena jihad, jihad hal yang utama, yang keutamaannya paling tinggi. Sesungguhnya Allah telah membeli harta dan jiwa seorang Mukmin dengann surga yang mereka ini, mereka menghabiskan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka berperang dijalan Allah. Di seluruh dunia ini semua negara punya angkatan perang akan tetapi hanya dua, berperang dijalan Allah apakah dijalan Thaghut. Orang-orang Mukmin, mempersiapkan perang dijalan Allah,nsehingga capeknya itu dihargai Allah. Dari latihan fisiknya, semua yang dilakukannya seandainya dijalan Allah tidak ada yang sia-sia, sangat rugi jika ia telah mempersiapkan dirinya bukan dijalan Allah. Orang yang berjihad di jalan Allah akan dimasukkan surga dan diberi mahkota yang permatanya lebih baik dari dunia dan isinya, dia diampuni dosanya sebelum darahnya menetes di tanah, dan diberikan kesempatan memberi syafaat kepada keluarga dan tidak ada orang yang ingin hidup lalu berperang lagi kecuali para Syuhada. Akan tetapi bukan jihad sembarang namun ada tata cara yang diajarkan oleh Allah. Tidak setiap memanggul senjata, membunuh orang kafir, membunuh orang itu dikatakan jihad. Namun semuanya ada tata caranya. 

Contoh lain, ibu-ibu mengeluh capeknya mengurus anak, dari hamil, melahirkan, menyusui, belum anaknya nangka dan sebagainya, akan tetapi seandainya capeknya ini karena hatinya berangkat dari ketaatan kepada Allah maka akan digantikan kecapekan ya itu oleh Allah. Allah mewasiatkan kepada kedua orang tuanya yang telah mengandungnya, Allah wasiatkan kepada para anak untuk mensyukuri nikmat pemeliharaan orang tua yang memeliharanya. Agar dia mensyukuri Allah dan mensyukuri orang tuanya. Tidak ada yang sia-sia dari capeknya seorang ibu. Semuanya berpahala. Tapi kalau tidak ada dasarnya kecapekannya itu, tidak dilandasi dari ketaatan kepada Allah, maka sia-sia. 

Contoh lain juga kepada bapak-bapak yang bertanggung jawab dalam rangka mencari nafkah istri dan anaknya. Istri adalah tanggungan suami, Allah halalkan istri untuk suami, dan Allah lebihkan warisan laki-laki dari wanita karena laki-laki itu Allah beri kelebihan yakni harus mencari nafkah. Seorang Laki-laki tidak boleh nganggur. Rasulullah mengajarkan umatnya harus bekerja, walaupun ia memanggul kayu dari hutan lalu di bawa ke kota, lalu ia jual itu lebih terhormat daripada ia minta-minta. Ini dalam tentang tanggung jawab dalam menghidupi istri dan anaknya. Kata nabi semangatlah anda dalam hal yang memberikan hal yang bermanfaat bagi anda. Sahabat Ali bin abi Thalib, yang juga merupakan keluarga nabi mencontohkan, Diantaranya Ali bekerja mengambilkan air untuk orang, dan ia tidak malu. Sahabat lainnya, Abu bakar, seandainya ia tidak dicegah, ketika beliau menjadi khalifah ia tetap bekerja karena bertanggung jawab kepada istri dan anaknya. 

Capeknya seorang lelaki dalam mengurusi keluarga maka ini sesuatu yang Allah berikan nilai. "Satu dinar yang diberikan kepada seorang miskin, satu dinar yang diberikan untuk membebaskan budak, satu dinar yang diberikan untuk infaq dijalan Allah dan satu dinar yang diberikan kepada keluarga maka yang lebih utama adalah satu dinar untuk keluarganya terlebih dahulu. 

Contoh lainnya, sebagian orang juga merasa capek berdakwah, ia menyiapkan materinya ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, akan tetapi seorang dai itu harus yakin bahwa capeknya dia, waktunya dia, semuanya akan dibayar oleh Allah dengan banyaknya keutamaan dari ia berdakwah.
Contoh lainnya lagi, Sebagian orang juga capek mencari ilmu, ia pergi dari majelis satu ke majelis lainnya, mencatat pelajaran, ia bosan dengan ilmunya tapi mencari ilmu itu kewajibannya sangat besar. Kalau capeknya kita dalam rangka ketaatan karena Allah maka tidak ada yang sia-sia. Capek kita akan diganti oleh Allah. Sekarang kita boleh capek di dunia, akan tetapi di akhirat kelak tidak ada lagi kelelahan, segalanya penuh kenikmatan. Karena telah tergantikan dengan capeknya ia di dunia.

2. Orang yang capek beramal namun tidak diterima amalannya. 
Ada orang capek yang dikatakan Allah, mereka beramal akan tetapi sia-sia. Mereka lelah beramal akan tetapi sia-sia. Umar bin khatab pernah menyaksikan seorang pendeta sibuk melakukan ibadah di gerejanya. Menangis Umar, mengingat tentang ayat Allah, mereka telah beramal dan amal mereka sia-sia. Maka bagaimana disini kita harus bermuhasabah, capeknya kita ini, capek yang berharga disisi Allah. Jangan sampai kita capek-capek lalu amal kita dicampakkan oleh Allah. 

Diantara ciri orang Mukmin adalah mereka yang telah melakukan berbagai macam ketaatan akan tetapi dihati mereka ada rasa gundah, apakah amalan mereka diterima oleh Allah atau tidak.

Ada kisah seorang salaf, namanya Atho, dia sudah bekerja keras membuat sebuah kain tenun yang bagus, setelah jadi dibawa ke seorang pedagang. Oleh pembeli, kain itu dilihat-lihat, bagus tapi sayang ada cacatnya. Lalu dikembalikan oleh si pembeli, maka ia tidak jadi membeli. Maka si Atho yang menerima kembali kain itu lalu ia menangis, si pembeli mengira Atho menangis karena kainnya tidak dibeli. Lalu berkata si pembeli, "wahai Atho seandainya engkau menangis karena kain itu tidak dibeli, maka sini aku beli namun dengan harga yang cacat." Lalu jawab Atho, saya menangis bukan karena kain saya engkau tolak, aku membuat kain itu semaksimal mungkin, maka seandainya seorang Mukmin sudah membuat amalnya dengan capek dan merajut amal semaksimal mungkin, lalu kemudian amalnya itu dicampakkan oleh Allah, maka aduhai celakanya yang demikian." 

Maka disini terdapat pelajaran,  seorang Mukmin adalah orang yang selalu muhasabah atas amalannya. Ia senantiasa memikirkan apakah amal ia diterima Allah atau tidak. Dan ini yang menjadikan ia lebih banyak beramal dan memperbaiki kualitasnya. 

Maka kata Imam AL Basri, seorang Mukmin, ia mengumpulkan antara bagusnya amal dan rasa takut seandainya amalnya ia ditolak oleh Allah. Orang ini akan terus beramal dan menjadikan dirinya muhasabah atas segala amalnya. Orang yang seperti ini akan jauh dari sombong dari amal yang ia miliki. 

Seorang salaf mengajarkan dirinya sendiri, kalau anda bertemu dengan orang yang lebih muda, maka ucapkan sungguh aku telah mendahului dirinya dalam hal dosa, sehingga ia merasa dosanya lebih banyak dan si muda lebih sedikit, sehingga ia merasa si muda ini lebih baik darinya. Kalau ia melihat yang lebih tua, ia katakan pada dirinya, dia telah mendahului aku dari kebaikan sehingga ia merasa amalnya lebih sedikit daripada orang yang lebih tua. Maka Jangan sampai seorang muslim ia telah capek-capek lalu amalnya ditolak oleh Allah. 

Keadaan 
2. Orang yang malas-malas, ia tidak gunakan badannya, sehingga ia tidak capek-capek beramal.
Jiwa ini adalah jiwa yang tidak menyibukkan diri dengan beramal. Ini bukanlah sifat seorang yang baik. apalagi seorang muslim, yang hidupnya dipergunakan untuk beribadah. Seandainya seseorang itu ia tidak punya pekerjaan di dunia, ia akanmengerjakan pekerjaan, yang akan menumpuk urusan kebaikannya di akhirat kelak. Rasulullah menuntutkan diri kita untuk berlindung dari kemalasan. Dengan sebuah doa yang bagus, Allahuma inni audzubika minnal kasali wal ajzi. 

Semoga bermanfaat. 

Jumat, 10 April 2015

Khosiyah dan muraqabahnya para salaf

Kajian 'Aina nahnu min akhlaqi salaf
Bab khosiyah dan muraqabah

Oleh Ustadz Afifi Abdul wadud
Masjid AL ikhlas, utara fakultas peternakan UGM, Sleman.
Setiap hari Senin dan Jumat bada maghrib-isya.

Salaf dan rasa khosiyah mereka kepada Allah dan rasa muraqabah mereka kepada Allah. 

Khosiyah sama dengan khauf. AL khauf memiliki makna takut, khosiyah juga memiliki makna takut. AL khauf rasa takut secara umum pada apa dan siapapun, dengan ia tahu atau tidak tahu yang ia takutkan itu bagaimana. Kadang ada orang tidak tahu kenapa ia takut. 

Adapun khosiyah, rasa takut yang disertai dengan ilmu, yakni pengetahuan dengan yang ia takuti. Oleh karena itu Allah peruntukannya kata khosiyah ini untuk para ulama. Sesungguhnya yang benar-benar mewujudkan rasa takut yang benar hanya para ulama. Karena ulama ia mengetahui Allah dengan sifat yang telah dijelaskan oleh Allah. Rasa takut yang muncul karena ilmu tentang ia takuti ini yang dinamakan khosiyah. 

Allah memuji orang yang memiliki rasa takut kepada Allah dan kepada ancaman Allah. Rasa takut kepada Allah hanya tumbuh dari orang yang mengenal, mengetahui siapa itu Allah, melalui nama dan sifat Allah yang telah diajarkan kepada kita sehingga ia tahu dan tergambar sempurna keagungan Allah, maka ini yang memunculkan rasa takut yang disertai dengan ilmu. 

Seperti dalam surat Al mukminun ayat 57-61. Sesungguhnya orang yang memiliki rasa takut kepada Allah rabb mereka, dan Orang-orang yang mereka terhadap ayat Allah  mereka beriman.Tidak semua orang mengimani ayat-ayat Allah. 

Tidak ada yang sempurna mengimani quran dan sunnah sebagaimana ahlu sunnah. Keimanan ahlu bidah adalah keimanan yang pilih-pilih dan mengikuti selera, seandainya ia mendapatkan ayat yang tidak sesuai selera ia simpan, atau ia menjelaskan sesuai seleranya, ia melakukan perubahan makna dari firman Allah. Contoh tentang yang menyikapi nama dan sifat Allah. Ada mauthilah dan ada kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Sehingga orang yang beriman dengan ayat Allah dengan benar adalah ahlu sunnah. Dan mereka orang yang tidak menyekutukan Allah dan orang yang mereka telah menunaikan berbagai macam amal ketaatan. Namun dengan banyaknya amalan hati mereka bergolak seandainya amal mereka tidak diterima Allah. 

Sehingga Aisyah pernah menanyakan kepada Rasulullah tentang ayat tersebut.  Ya Rasulullah apakah mereka itu orang yang minum khamr atau mencuri sehingga mereka takut. Rasulullah jawab bukan. Mereka bahkan yang shalat, berpuasa, sedekah tapi bersama dengan itu semua ada rasa takut seandainya perasaan amal itu tidak diterima. Orang seperti ini ia disatu sisi ia akan menyempurnakan amalnya sesempurna mungkin, dan sisi lainnya dia adalah orang yang benar-benar muhabasah tentang apa yang ia lakukan. Apakah yang ia lakukan betul-betul membawa keridhaan Allah atau ada cacat yang bisa mengurangi amal atau membatalkan amal. 

Imam Hasan AL Basri, berkata, mereka adalah orang yang telah mengamalkan berbagai macam ketaatan. Dan mereka orang yang giat bersemangat, memiliki mujahadah dalam mengamalkan amal tersebut, dan bersama itu ia terdapat kekhawatiran amal tersebut ditolak Allah. Maka beliau berkata, sesungguhnya orang Mukmin itu mengumpulkan antara berbuat Ihsan dan rasa takut. Demikian orang munafik, mereka mengumpulkan dua hal, buruknya amal yang ia lakukan, tapi bersama itu ia ada rasa aman. Hatinya aman seakan ia yakin akan selamat di hari kiamat. Padahal ia tidak memiliki amalan yang berkualitas dihadapan Allah. 

Allah mensifati wali Allah, mereka yang memasuki kampung akhirat, ketika setelah kematian, mereka tidak takut dan tidak sedih. Orang yang di dunia memiliki rasa takut kepada Allah maka di akhirat kelak Allah berikan keamanan. 

Orang yang merasa aman dan nyaman di dunia, dia tidak shalat, tidak puasa merasa aman dan nyaman, maka hari kematian dan setelahnya akan penuh dengan ketakutan. 

Di katakan oleh para ulama kita, barangsiapa yang hari ini punya rasa takut kepada Allah maka ia shalat, ia puasa, zakat, ia belajar agama, ini adalah cerminan ia memiliki rasa takut kepada Allah, maka hari esok ia akan aman. Maka barangsiapa yang merasa aman, maka besok dia akan diliputi dengan rasa takut. 

Khosiyahtullah merupakan pilar agama, pilar ubudiyah. 

Sebagaimana perkataan para salaf kita, barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut semata maka dia khawarij. Seakan tidak ada harapan kepada Allah. 

Barangsiapa yang beribadah dengan harapan semata, ia murjiah, dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah hanya berdasarkan cinta, ia munafik. Barang siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut, harapan dan juga cinta maka ia adalah orang yang bertauhid kepada Allah. 

Sehingga hal ini membuat dia menahan diri dari larangan Allah dan melakukan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Tidak ada yang manusia itu paling takuti yang membuat ia semakin mendekat kecuali Allah. 

Rasa takut memiliki buah yang sangat indah. Rasa takut membuat Allah akan mengujinya. 
Dalam AL maidah ayat 94. Allah katakan, wahai orang yang beriman sungguh benar-benar kami akan menguji kalian dengan sesuatu. 
Ujian Allah pasti berkaitan dengan keimanan seseorang dan ujian Allah dihadirkan sedikit dengan sedikit. Diantara ujian adalah dimudahkan berbuat maksiat dan ia tinggalkan maksiat karena ia takut kepada Allah. Contoh dalam ayat ini adalah yaitu para sahabat dalam keadaan Ihram, Diantara larangan Ihram adalah berburu binatang, justru pada saat itu Allah datangkan binatang buruan yang sangat banyak. Ini dilakukan agar Allah mengetahui mana orang yang benar-benar takut kepada Allah. 

Rasa takut memiliki tingkatan, dan buah yang sangat indah. Rasa takut ini akan memberikan ia dorongan dalam ikhlas beramal. Rasa taku yang ada didalam dada seseorang akan mendorong seseorang ikhlas dalam beramal. Rasa takut juga akan mewujudkan amal salih dalam kehidupan. Para pedagang akhirat adalah orang yang bersemangat dalam beramal. Rasa takut mendorong memanfaatkan dunia untuk merasa keuntungan besar di akhirat. Orang yang betul-betul punya rasa takut ia akan segera mempersiapkan diri selamat dari azab Allah. Barang siapa yang segera beramal ia akan sampai kepada tujuan yang ia maksudkan.  


Diantara yang bisa menumbuhkan rasa takut seorang hamba kepada Allah, banyak cara:
1. Dia mengingat terhadap keagungan Allah subhanahu wa ta'ala. Diantara sebab rasa takut hamba adalah memiliki keagungan Allah melalui cipataan Allah. Orang yang berfikir langit yang tujuh, Allah menegakkan langit tanpa tiang, Allah membentangkan bumi. Allah memiliki arsy yang sangat besar. Bumi yang kita tempati adalah bumi yang satu dan luas, sehingga manusia berada di muka bumi di berbagai benua dan negara. Bumi yang tujuh dan langit yang tujuh dibandingkan dengan kursi Allah seperti lempengan logam kecil diletakkan di sahara. Kursi Allah di bandingkan dengan arsynya Allah juga seperti itu. Arsy ini disanggah oleh 8 malaikat. Malaikat penyangga arsy. Ketika manusia memikirkan keagungan makhluk ia akan memikirkan keagungan Allah. Allah menakut-nakuti kalian dengan keagungan Allah. Kaum nabi Nuh yang mengingkari dakwah nabi Nuh, nabi Nuh mengatakan kalian wahai kaumku tidak mengagungkan Allah dengan sebaik-baik pengagungan, padahal bumi akan digenggam oleh Allah dan bumi dihancurkan dengan tangan kanan Allah pada hari kiamat. 

2. Melakukan tadabbur terhadap kalam Allah. Ia menyimak, memahami terhadap kalam Allah yakni AL quran. Barangsiapa yang mempelajari AL quran dengan sepenuh hati dengan pemahaman yang benar, maka akan mengantarkannya kepada ketakutan kepada Allah. Imam Ibnu qayim mengatakan, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hamba dalam kehidupan di dunia sampai akhirat, tidak ada yang lebih dekat untuk mengantarkan ia dari keselamatan, kecuali dengan tadabbur, memikirkan dalam-dalam AL quran. Ia pun mengumpulkan mengerahkan pikiran untuk memahami ayat-ayat AL quran apa yang terkandung di dalamnya. 
Imam ibnul jauzi berkata, wallahi, seandainya seorang Mukmin yang benar-benar berakal, ia membaca surat AL hadiid, dan membaca akhir surat AL Hasyr, dan ia membaca ayat kursi dengan tadabbur, membaca surat AL ikhlas, dengan penuh perenungan, benar-benar hatinya akan di buat rasa takutnya kepada Allah. Demikian juga siapa yang melakukan tadabbur dengan kalam dan sirah Rasulullah akan menimbulkan rasa takut kepada Allah. Karena Rasulullah adalah tuannya para pemimpinnya orang bertaqwa, dan imannya orang yang takut dan manusia yang paling memiliki rasa takut kepada Allah
3. Merasakan ada taksir dalam kewajiban ibadah yang dilakukan. Merasa kekurangan atas ibadah yang ia lakukan. 

4. Rasa takut seandainya amal dia tidak diterima oleh Allah. Yang Allah hanya menerima amal dari orang yang bertaqwa.

5. Mengingat dosa yang telah lalu yang telah ia lakukan. Kalau mau ingat jangan ingat kebaikan namun ingatlah dosa kita. 

6. Memikirkan tentang tempat kembali kota, bahwa kita akan mati dan akan memasuki alam barzah. Seandainya tidak diterangi oleh amala saleh dan tidak di luaskan oleh Allah niscaya ia dapat tempat yang buruk, sampai ia dibangkitkan Allah. 

7. Mengingat tentang AL maut yang akan menjumpai dia sewaktu-waktu. Sehingga ia segera mempersiapkan diri.

8. Memikirkan tentang kubur

9. Memikirkan tentang dahsyatnya kiamat. 

10. Memikirkan tentang neraka

11. Memikirkan tentang sifat dengan orang yang sifatnya menyelamatkan, bergaul dengan orang salih. 

12. Memikirkan khawatirnya terhalang ia dengan taubat dengan dosa dia

13. Memikirkan kalau ia mati dalam keadaan suul khatimah.

14. Membaca sirah orang yang memiliki rasa takut. 


Dimana kita dibandingkan para salaf dalam akhlak. 

Bab khosiyah dan muraqabah itu dimasukkan kedalam bab akhlak. Akhlak yang berkaitan dengan Allah, artinya akhlak itu bukan hanya berkaitan hamba dengan makhluk saja tetapi juga berkaitan dengan Allah. Pendidikan agar akhlak hamba dengan Allah ini adalah pendidikan aqidah. Ini yang akan membawa manusia dalam penghambaan yang sempurna. 

Tingkatan agama seseorang paling rendah, adalah Islam diatasnya iman diatasnya Ihsan dan ini menentukan kualitas amaliyah yang dimiliki seorang. 

Seorang yang di tataran paling rendah yakni Islam ia lebih menampakkan amalan dhohir, yang mana ia belum sampai pada tingkat berikutnya yakni iman. Sehingga pernah datang seorang Arab Badui kepada Rasulullah, lalu ia mengatakan, kami beriman ya Rasulullah. Maka Allah katakan kepada nabi, katakanlah belum, anda belum beriman, akan tetapi katakanlah kami telah Islam. Pelajaran dari kisah ini, disini Allah membedakan Islam dengan iman. Iman adalah tingkatan yang lebih khusus, lebih tinggi dari Islam. Iman itu apabila nilai amalan dia telah merasuk dalam hati dia. Kemudian ada yang namanya Ihsan, yang lebih tinggi lagi dan lebih berkualitas lagi. Dimana Ihsan itu terkandung didalamnya musyabaqah dan muraqabah yakni Ia memiliki kerinduan kepada Allah Dan rasa muraqabah, rasa selalu dalam pengawasan oleh Allah. 

Sahabat Ibnu mas'ud pernah mengatakan, tentang sesuatu yang menunjukkan kepribadian orang yang memiliki cerminan muraqabah kepada Allah. 
Beliau ingatkan kepada kita, "wahai manusia, kalian berada dalam lingkaran perjalanan siang dan malam." Berjalan, bukan berhenti, beliau ingatkan tentang kita tentang waktu, waktu dimana  menurut pandangan beliau sangat berharga, karena waktu adalah modal utama. 

Lalu beliau mengatakan, berkaitan dengan waktu, "tidak ada penyesalan yang aku rasakan seperti penyesalanku ketika matahari tenggelam, hari itu, jatah umurku berkurang sedangkan Amalku tidak bertambah." Beliau sangat menyesalkan, dimana dengan waktu sebagai hal yang berharga dalam kehidupannya. Hilangnya waktu, maka hilangnya modal yang pokok dalam kehidupannya.

 Kemudian ia kembali melanjutkan perkataannya , "Anda wahai manusia selalu dibatasi dnegan ajal anda. Siang malam mendekatkan anda kepada ajal. " Ini menunjukkan muraqabahnya beliau dan waspadanya beliau sehingga beliau mengingatkan pada kita waktu yang berjalan dan ajal. Beliau katakan, "semua amalan tersimpan, tidak ada amalan yang terlupakan oleh Allah, dan nanti akan digelar kitab catatan dan Allah katakan kepada pemilik buku, bacalah wahai hamba kitabmu sendiri. Hari ini andalah yang menjadi penghisab (penghitung) amal anda sendiri."

Ketika orang mujrim, melihat kitab mereka, maka orang mujrim ketakutan yang sangat luar biasa kepada kitab catatan yang Allah berikan. Lalu ia katakan aduhai celakanya kitab apa ini? Kitab yang memuat semua catatan, tidak yang kecil dan tidak yang besar tercatat dalam kitab tersebut ketika ia menghadap Allah. Hari dimana hamba mendapat kitab ditangan kanan atau kirinya.  Orang yang menerima kitab dengan tangan kanan ia akan berbangga dan bergembira dengan kitab yang Allah berikan kepadanya. Ia berbangga karena, ia yakin seyakin-yakinnya ada hisab sehingga ia melakukan amalan terbaik. Maka sekarang ia berada Disurga yang tinggi buah-buahnya didekatkan padanya, ia menikmati kenikmatan yang sangat menyenangkan. Ini adalah hasil perbuatannya dimasa yang lalu. Adapun orang yang menerima catatan dengan tangan kirinya, maka mereka mengatakan, aduhai seandainya aku tidak menerima kitab catatan amal ini. Dan aku tidak tahu, apa itu hisab dan aku tidak sangka akan terjadi hisab yang demikian. Ia mengatakan aduhai seandainya kematian yang menyelesaikannya, akan tetapi kematian adalah pintu hari akhirat, maka ia menyesalinya. Lalu Allah perintahkan malaikat untuk merangkainya dan melemparkannya ke dalam jahanam.
Maka Ibnu mas'ud mengingatkan tentang adanya hisab dan ajalnya datang secara mendadak. Kematian menjemput siapa saja, tidak peduli umur berapapun. 

Lalu Ibnu mas'ud mengatakan "barangsiapa yang menanam kebaikan-kebaikan maka ia akan memetik hasilnya, akan panen dan akan berbahagia dengan hasil panennya tersebut. Barangsiapa yang di dunia ia menanam keburukan, maka ia akan merasakan penyesalan, akan tetapi penyesalan yang tidak bermanfaat, ia akan mengeluh, dengan keluhan yang tidak berguna. Dan orang lain tidak akan bisa mengambil jatahnya orang yang lambat." Ini berkaitan dengan takdir, bahwa kita telah ditetapkan. Orang yang berlambat amal, ia tidak akan dapatkan kecuali apa yang ia ditakdirkan kepadanya. Rasululah mengajarkan, bertaqwalah anda kepada Allah, dan perbaguslah cara anda mencari Rizki Allah, jangan sampai lambatnya Rizki kepada anda, anda menempuh jalan yang haram. 

Diantara perkataan Ibnu mas'ud, ia mengatakan "barangsiapa yang Allah berikan kebaikan baginya, Allahlah yang berikan kebaikan pada dia. Barang siapa yang Allah jaga dari keburukan, maka Allahlah yang menjaganya." Ini menunjukkan bahwa mengembalikan segala sesuatu kepada allah. Sehingga kalimat laa hawla wala quwatul illa billah, menunjukkan pengetahuan hamba yang sempurna dan seluruh kekuatan dalam diri allah, dan dalam kebaikan pula seandainya tidak ada pertolongan allah ia tidak bisa melakukan kebaikan. Sehingga ia dimudahkan allah dalam perkara-perkara kebaikan. Beliau kembali melanjutkan perkataannya "Orang-orang bertaqwa adalah pemimpin yang terhormat, yang akan dihargai di dunia dan di akhirat. Di dunia, ketaqwaan akan dihargai orang, di akhirat akan dimuliakan allah, dan para malaikat. Dan para ulama, dibutuhkan manusia, akan tetapi manusia belum tentu dibutuhkan ulama. Orang kaya, miskin, laki-laki, wanita butuh kepada ulama. Akan tetapi ulama belum tentu membutuhkan kita, sehingga ulama adalah pemimpin orang bertaqwa. Sehingga kita perlu bergaul dengan para ulama agar bisa dibimbing oleh mereka." 

Pelajaran yang sangat Agung untuk kita renungkan dari perkataan lain para salaf, yakni bakr ibn Abdillah, beliau mengatakan "kalau anda melihat orang yang lebih tua, maka ucapkan dari dalam diri anda, orang ini telah mendahuluiku dengan iman dan amal alih maka lebih baik dariku. Kalau anda melihat orang yang lebih rendah dari anda umurnya, maka katakan untuk diri anda, aku telah mendahului dia dalam hal dosa dan maksiat, maka ia lebih baik dari aku, maka dosanya lebih sedikit dariku." Ucapan ini hasil muraqabah, hasil rasa takut kepada Allah dan tidak ada yang ia banggakan. Lalu ia melanjutkan "Kalau ada orang yang memuliakanku, maka katakanlah ia sesungguhnya  adalah orang yang memiliki keutamaan, karena keutamaan akhlaknya hingga ia memuliakanku." Dan juga ia katakan "Seandainya ada orang yang meremehkan anda, maka katakanlah inilah dosa yang kuperbuat sehingga orang merendahkanku."

Semoga bermanfaat. 
 



Kamis, 09 April 2015

Empat pertanyaan pada hari kiamat

Kajian tentang hadits empat pertanyaan pada hari kiamat
Oleh: ustadz Afifi Abdul Wadud
Masjid Al Jihad, Dayu, Sleman



Kita dianjurkan untuk memohon kepada Allah untuk meminta tambahan ilmu. 
Tidak ada yang lebih baik yang kita meminta tambahan kepada Allah melebihi ilmu. 

Hadits tentang pertanyaan Allah kepada para hambanya di yaumul kiamat diantaranya empat hal:
1. Tentang umur
2. Tentang ilmu
3. Tentang harta
Pembahasan tentang umur dan ilmu telah dilewati. 

Saat ini kita memasuki pembahasan ke tiga tentang harta, dari mana harta didapatkan dan Kemana harta dibelanjakan. 

Harta sesuatu yang tidak bisa pisahkan dari kebutuhan hidup kita. Allah menjadikan Perwatakan manusia senang dan mencintai kepada harta. Bukan hanya senang biasa melainkan senang yang sangat. Sehingga hampir tidak ada orang yang diberi harta ia menolak. Meskipun dijanjikan tempat yang jauh akan ia tempuh. Ada sebuah pertanyaan, Mau kah engkau gaji sebulan 100 juta? Meskipun meninggalkan anak dan istri, maka ia akan berangkat. Karena memang didalam diri manusia ada syahwat terhadap harta. 

Dijadikan oleh Allah sesuatu yang indah dan ada nuansa kecintaan, dan ada syahwat, bersatunya tiga perkara ini dalam diri seseorang, Indah, cinta, bersyahwat akan menjadikan sebuah selera yang sangat tinggi. 

Sesuatu yang indah belum tentu ia cintai. Sesuatu yang ia cintai belum tentu ia bersyahwat. Orang tua kita kita cintai tapi kita tidak bersyahwat kepadanya. Tapi ini tergabung ketiga hal ini. Apa itu? Istri, anak-anak, harta benda, baik itu emas perak, kuda pilihan, sawah ladang yang ini merupakan harta dunia.

 Dan Allah menyebutkan, manusia, mereka sangat mencintai harta yang sangat besar dan terhadap harta, sungguh kecintaannya itu sangat besar, sehingga orang-orang yang mereka tidak memiliki kekuatan iman dan tidak memiliki kekuatan dalam hatinya akan ia kerahkan seluruh tenaga terhadap yang ia syahwatkan berkaitan dengan masalah harta.

Sehingga Rasulullah mengatakan, seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah harta ia pasti mencari yang ketiga, pasti! Gak ada istilah puas, kecuali orang yang Allah rahmati, yang memiliki hati yang qanaah. 
Bahkan tidak akan memenuhi hawa nafsu anak Adam hingga lambungnya dipenuhi tanah alias mati.

Perasaan manusia terhadap harta sering sekali membuat manusia ia terfitnah, oleh karena itu manusia diperingatkan wahai manusia takutlah kalian terhadap harta dan dunia. Bahkan Rasulullah mengingatkan, setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku ini adalah harta. Sehingga harta merupakan fitnah yang sangat besar, dari Allah subhanahu wa ta'ala. Sehingga agama kita secara rinci memberikan nasihat bagaimana kita berinteraksi dengan harta. Ketika manusia terfitnah dengan harta maka akan menimbulkan kerusakan kerusakan. 

Diantara fitnah harta ketika muncul 
1. ia akan berbuat melampaui batas, berbuat kerusakan di bumi. 
Sebagaimana yang Allah katakan, seandainya Allah bentangkan, bukakan untuk manusia itu harta, rezeki, niscaya dia akan melampaui batas di muka bumi. Akan tetapi Allah menurunkan kadar keberadaan harta untuk kelengkapan hidup manusia dengan yang Allah takar. Allah telah sediakan cadangan buat manusia dari awal diciptakan sampai kiamat. Tidak ada satupun makhluk melata yang tidak ditanggung rezekinya. Masalahnya Allah tidak langsung memberikan rezekinya langsung. Coba jika Allah memberikan suatu negara cadangan minyaknya banyak, pasti akan terbakar, ini semua Allah yang atur, yang menjadi masalah manusia menjadi tamak dengan cadangannya. Maka Yang dituntut adalah manusia bertaqwa dan mengelola dengan benar. 

Manusia itu cenderung kalau diberikan kepadanya oleh Allah ia melampaui batas. Seandainya manusia diberi rezeki ia akan membuat kerusakan. Dimana-mana orang yang berbuat kerusakan itu orang kaya bukan orang miskin. Sehingga berbuat rusak, dholim, banyak penyimpangan dengan harta yang ia miliki. 

Diantara penyimpangan karena harta, 
2. Menjadikan orang ini menjadi penghalang kebenaran. Mereka inilah para mutraf yang menjadi penghalang kebenaran. Tidaklah kami utus juru peringat disebuah wilayah untuk mengingatkan agama Allah, kecuali para mutraf, orang yang tenggelam dengan kemewahan, gelombang harta, mereka mengatakan kami mengingkari apa yang kalian bawa. Diantara mereka berbuat begitu karena hartanya. Mereka mengatakan kami itu orang yang lebih banyak hartanya dan anaknya. Sehingga hartanya membuat ia sombong, membuat hatinya tinggi hati. Maka lihat bagaimana qarun dengan hartanya maka ia sombong dan menolak kebenaran dan berbuat kerusakan di muka bumi, dan Allah jadikan pelajaran bagi manusia, kami tenggelamkan qarun dan rumahnya di perut bumi. Bahkan ketertipuan manusia denegan syaitan atas hartanya, menganggap mereka tidak di azab. 
Maka Allah tegaskan bukanlah harta kalian dan anak kalian yang membuat kalian dekat dengan Allah melainkan orang yang melakukan amal salih. 

Diantaranya fitnah karena harta 
3. Membawa kepadanya membabi buta dalam mengumpulkan harta. Sebagaimana Allah sebutkan dalam ayatnya yang mulia, bahkan bukan hanya orang awam yang mereka rakus pada harta akan tetapi orang yang faham tentang agama Allah, dan merasa menjadi orang salih, jika terfitnah dengan harta ia akan mengumpulkan dengan membabi buta. 

Allah katakan kepada orang beriman, wahai kaum mukminin jangan kalian makan harta diantara kalian dengan cara batil. Ini larangan langsung Allah tujukan kepada kaum mukminin, lalu Allah berikan pelajaran, orang yang sudah beriman jangan merasa aman dan terbebas dan fitnah dunia lalu mereka mencari harta dengan cara yang haram. 

Allah katakan wahai orang yang beriman, sesunggunya banyak orang berilmu dari kalangan Yahudi dan para ahli ibadah dari kalangan Nasrani, kebanyakan mereka ini, sungguh benar-benar memakan harta manusia dnegan cara yang batil. Sehingga agama itu sekedar jadi kedok. Kedok untuk menyedot hartanya manusia. Ini kejahatan yang sangat nyata, kejahatan terselubung. Kalau dikalangan Bani Israil telah terjerumus, wahai kaum mukminin jangan merasa aman, akan ada kaum mukminin yang mengikutinya. 

Benar-benar kalian kaum muslimin akan ada Diantara kalian mengikuti orang sebelum kalian sejengkal-demi sejengkal,melangkah demi selangkah sampai ke lubang dop, yang kecil kalian akan mengikuti. Para sahabat mengatakan apakah Yahudi dan Nasrani kata Rasulullah siapa lagi?

Kalau sudah terfitnah harta maka ia akan menghalangi manusia dari kebenaran. Orang yang jualan bidah, Syirik, gak mau menerangkan manusia, ajaran benar bahkan menjadi penghalang utama manusia akan sunnah. Karena kalau yidak maka habis lahan makannya. Karena ia pun akan menggusur acara yang ad atuntunannya dengan yang tidak ada tuntunannya. Seperti ini ada dikalangan Yahudi dan ada di kalangan kaum mukminin. Sehingga banyak orang berlomba jadi ulama bukan untuk mengajar manusia dari bahaya Syirik,bidah, tapi hanya untuk mengejar dunia. 

Fitnah dunia ini akan menimbulkan bahaya yang besar, nabi katakan benar-benar akan datang waktunya manusia tidak peduli dari mana jalan ia dapatkan hartanya apakah dengan cara halal atau harama. Kalau sudah seperti itu kondisinya akan terjadi apa yang dikatakan nabi, dua serigala yang lapar, binatang buas yang lapar, keduanya dilepas pada seekor kambing, sudah perutnya lapar, jatahnya cuma satu, bahaya. Tetapi kata nabi ini tidak lebih berbahaya dibandingkan orang yang lebih rakus dengan harta. Dibandingkan orang yang lebih rakus dengan harta dan gila hormat karena agama. Diterangkan Ibnu rajab, orang dimuliakan di dunia itu dengan dua cara. Pertama, harta. Sehingga kemana-mana orang menghormatinya. Tapi kalau sudah miskin tidak dihormati. Karena hartanya ini yang menyihir orang menghormatinya. Sehingga orang berlomba untuk memiliki harta. Terkadang mending utang Numbuk agar bisa tampil punya mobil. Si fulan mobilnya bagus, tapi utangnya mentereng. Dia pengen orang menilai dirinya sehingga ia kumpulkan dnegan cara yang tidak karuan. Orang yang gila harta bisa terjebak dalam dua keadaan. Pertama karena ia gila harta jika waktu itu bisa 27 jam ia akan buat kerja 27 jam. Ia gila kerja, kalau gak kerja gila. Dia kerja untuk mendapatkan dunia. Orang seperti ini sekalipun tidak terjerumus perkara haram, waktunya habis untuk melakukan ketaatan.. Habis hanya mengumpulkan harta. Ini celaka. Untuk apa? Kalau sudah terkumpul banyak juga makan cuma sepiring dua piring. Pakaian juga satu dua pakaian. Kerja seperti itu yang menikmati juga orang lain. Kedua. Orang yang gila harta ia tidak tahu cara mengumpulkannya. Ia membabi buta. Babi saja sudah jelek apalagi buta. Cara lainnya ia jadikan agama untuk ia dihormati. Ia cari agama bukan untuk bertaqwa kepada Allah. Para salaf tidak ingin terkenal Diantara manusia. Jika ia termahal ia langsung hilang. 
Contoh menerobos roda pesawat buat terkenal. Masya Allah. 

Ada salaf bernama yazid bin aswath. Khalifah yang negaranya mengalami paceklik, kemudia ia tahu ada orang salih namanya yazid bin aswath, tapi orang tidak tahu. Lalu khalifah memanggil namanya sampai tiga kali dan mengatakan demi kaum muslimin doakan lah  agar hujan turun. Allah hujan turun dan ia pun terkenal. Lalu ia berdoa kepada Allah, matikan lah aku ya Allah, dan seminggu kemudian ia mati karena ia tidak mau terfitnah dengan dunia.