Tampilkan postingan dengan label kajian aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian aqidah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

Empat pertanyaan pada hari kiamat, tentang jasad!


Kajian empat pertanyaan pada hari kiamat
Oleh; ustadz Afifi Abdul Wadud
Masjid AL jihad, Dayu, Kaliurang, Sleman. 

Pertanyaan keempat pada hari kiamat yang Allah tanyakan kepada kita kelak adalah tentang Jasad kita. Jasad kita akan ditanyakan dan dalam hal apa yang kita lelahkan. 

Dalam pertanyaan yang keempat ini manusia ada dalam beberapa keadaan:
Keadaan
1. Orang yang melelahkan badannya dalam berbagai macam bentuk amalan. 

Keadaan ini terbagi menjadi dua:

1. Orang yang capek dan mendapatkan amalan tersebut
Orang yang membuat capek dirinya dalam perkara ketaatan kepada Allah. Jiwa kita sebagaimana Imam syafii menujukkan sebuah nasihat, jiwa ini seandainya tidak disibukkan dnegan perkara yang haq, maka seseorang akan disibukkan dengan perkara yang batil. Maka berbahagialah jika kita merasa lelah, akan tetapi semua kelelahan yang ia dapatkan dalam rangka amal ketaatan. Satu contoh diantaranya, orang capek karena jihad, jihad hal yang utama, yang keutamaannya paling tinggi. Sesungguhnya Allah telah membeli harta dan jiwa seorang Mukmin dengann surga yang mereka ini, mereka menghabiskan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka berperang dijalan Allah. Di seluruh dunia ini semua negara punya angkatan perang akan tetapi hanya dua, berperang dijalan Allah apakah dijalan Thaghut. Orang-orang Mukmin, mempersiapkan perang dijalan Allah,nsehingga capeknya itu dihargai Allah. Dari latihan fisiknya, semua yang dilakukannya seandainya dijalan Allah tidak ada yang sia-sia, sangat rugi jika ia telah mempersiapkan dirinya bukan dijalan Allah. Orang yang berjihad di jalan Allah akan dimasukkan surga dan diberi mahkota yang permatanya lebih baik dari dunia dan isinya, dia diampuni dosanya sebelum darahnya menetes di tanah, dan diberikan kesempatan memberi syafaat kepada keluarga dan tidak ada orang yang ingin hidup lalu berperang lagi kecuali para Syuhada. Akan tetapi bukan jihad sembarang namun ada tata cara yang diajarkan oleh Allah. Tidak setiap memanggul senjata, membunuh orang kafir, membunuh orang itu dikatakan jihad. Namun semuanya ada tata caranya. 

Contoh lain, ibu-ibu mengeluh capeknya mengurus anak, dari hamil, melahirkan, menyusui, belum anaknya nangka dan sebagainya, akan tetapi seandainya capeknya ini karena hatinya berangkat dari ketaatan kepada Allah maka akan digantikan kecapekan ya itu oleh Allah. Allah mewasiatkan kepada kedua orang tuanya yang telah mengandungnya, Allah wasiatkan kepada para anak untuk mensyukuri nikmat pemeliharaan orang tua yang memeliharanya. Agar dia mensyukuri Allah dan mensyukuri orang tuanya. Tidak ada yang sia-sia dari capeknya seorang ibu. Semuanya berpahala. Tapi kalau tidak ada dasarnya kecapekannya itu, tidak dilandasi dari ketaatan kepada Allah, maka sia-sia. 

Contoh lain juga kepada bapak-bapak yang bertanggung jawab dalam rangka mencari nafkah istri dan anaknya. Istri adalah tanggungan suami, Allah halalkan istri untuk suami, dan Allah lebihkan warisan laki-laki dari wanita karena laki-laki itu Allah beri kelebihan yakni harus mencari nafkah. Seorang Laki-laki tidak boleh nganggur. Rasulullah mengajarkan umatnya harus bekerja, walaupun ia memanggul kayu dari hutan lalu di bawa ke kota, lalu ia jual itu lebih terhormat daripada ia minta-minta. Ini dalam tentang tanggung jawab dalam menghidupi istri dan anaknya. Kata nabi semangatlah anda dalam hal yang memberikan hal yang bermanfaat bagi anda. Sahabat Ali bin abi Thalib, yang juga merupakan keluarga nabi mencontohkan, Diantaranya Ali bekerja mengambilkan air untuk orang, dan ia tidak malu. Sahabat lainnya, Abu bakar, seandainya ia tidak dicegah, ketika beliau menjadi khalifah ia tetap bekerja karena bertanggung jawab kepada istri dan anaknya. 

Capeknya seorang lelaki dalam mengurusi keluarga maka ini sesuatu yang Allah berikan nilai. "Satu dinar yang diberikan kepada seorang miskin, satu dinar yang diberikan untuk membebaskan budak, satu dinar yang diberikan untuk infaq dijalan Allah dan satu dinar yang diberikan kepada keluarga maka yang lebih utama adalah satu dinar untuk keluarganya terlebih dahulu. 

Contoh lainnya, sebagian orang juga merasa capek berdakwah, ia menyiapkan materinya ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, akan tetapi seorang dai itu harus yakin bahwa capeknya dia, waktunya dia, semuanya akan dibayar oleh Allah dengan banyaknya keutamaan dari ia berdakwah.
Contoh lainnya lagi, Sebagian orang juga capek mencari ilmu, ia pergi dari majelis satu ke majelis lainnya, mencatat pelajaran, ia bosan dengan ilmunya tapi mencari ilmu itu kewajibannya sangat besar. Kalau capeknya kita dalam rangka ketaatan karena Allah maka tidak ada yang sia-sia. Capek kita akan diganti oleh Allah. Sekarang kita boleh capek di dunia, akan tetapi di akhirat kelak tidak ada lagi kelelahan, segalanya penuh kenikmatan. Karena telah tergantikan dengan capeknya ia di dunia.

2. Orang yang capek beramal namun tidak diterima amalannya. 
Ada orang capek yang dikatakan Allah, mereka beramal akan tetapi sia-sia. Mereka lelah beramal akan tetapi sia-sia. Umar bin khatab pernah menyaksikan seorang pendeta sibuk melakukan ibadah di gerejanya. Menangis Umar, mengingat tentang ayat Allah, mereka telah beramal dan amal mereka sia-sia. Maka bagaimana disini kita harus bermuhasabah, capeknya kita ini, capek yang berharga disisi Allah. Jangan sampai kita capek-capek lalu amal kita dicampakkan oleh Allah. 

Diantara ciri orang Mukmin adalah mereka yang telah melakukan berbagai macam ketaatan akan tetapi dihati mereka ada rasa gundah, apakah amalan mereka diterima oleh Allah atau tidak.

Ada kisah seorang salaf, namanya Atho, dia sudah bekerja keras membuat sebuah kain tenun yang bagus, setelah jadi dibawa ke seorang pedagang. Oleh pembeli, kain itu dilihat-lihat, bagus tapi sayang ada cacatnya. Lalu dikembalikan oleh si pembeli, maka ia tidak jadi membeli. Maka si Atho yang menerima kembali kain itu lalu ia menangis, si pembeli mengira Atho menangis karena kainnya tidak dibeli. Lalu berkata si pembeli, "wahai Atho seandainya engkau menangis karena kain itu tidak dibeli, maka sini aku beli namun dengan harga yang cacat." Lalu jawab Atho, saya menangis bukan karena kain saya engkau tolak, aku membuat kain itu semaksimal mungkin, maka seandainya seorang Mukmin sudah membuat amalnya dengan capek dan merajut amal semaksimal mungkin, lalu kemudian amalnya itu dicampakkan oleh Allah, maka aduhai celakanya yang demikian." 

Maka disini terdapat pelajaran,  seorang Mukmin adalah orang yang selalu muhasabah atas amalannya. Ia senantiasa memikirkan apakah amal ia diterima Allah atau tidak. Dan ini yang menjadikan ia lebih banyak beramal dan memperbaiki kualitasnya. 

Maka kata Imam AL Basri, seorang Mukmin, ia mengumpulkan antara bagusnya amal dan rasa takut seandainya amalnya ia ditolak oleh Allah. Orang ini akan terus beramal dan menjadikan dirinya muhasabah atas segala amalnya. Orang yang seperti ini akan jauh dari sombong dari amal yang ia miliki. 

Seorang salaf mengajarkan dirinya sendiri, kalau anda bertemu dengan orang yang lebih muda, maka ucapkan sungguh aku telah mendahului dirinya dalam hal dosa, sehingga ia merasa dosanya lebih banyak dan si muda lebih sedikit, sehingga ia merasa si muda ini lebih baik darinya. Kalau ia melihat yang lebih tua, ia katakan pada dirinya, dia telah mendahului aku dari kebaikan sehingga ia merasa amalnya lebih sedikit daripada orang yang lebih tua. Maka Jangan sampai seorang muslim ia telah capek-capek lalu amalnya ditolak oleh Allah. 

Keadaan 
2. Orang yang malas-malas, ia tidak gunakan badannya, sehingga ia tidak capek-capek beramal.
Jiwa ini adalah jiwa yang tidak menyibukkan diri dengan beramal. Ini bukanlah sifat seorang yang baik. apalagi seorang muslim, yang hidupnya dipergunakan untuk beribadah. Seandainya seseorang itu ia tidak punya pekerjaan di dunia, ia akanmengerjakan pekerjaan, yang akan menumpuk urusan kebaikannya di akhirat kelak. Rasulullah menuntutkan diri kita untuk berlindung dari kemalasan. Dengan sebuah doa yang bagus, Allahuma inni audzubika minnal kasali wal ajzi. 

Semoga bermanfaat. 

Kamis, 09 April 2015

Empat pertanyaan pada hari kiamat

Kajian tentang hadits empat pertanyaan pada hari kiamat
Oleh: ustadz Afifi Abdul Wadud
Masjid Al Jihad, Dayu, Sleman



Kita dianjurkan untuk memohon kepada Allah untuk meminta tambahan ilmu. 
Tidak ada yang lebih baik yang kita meminta tambahan kepada Allah melebihi ilmu. 

Hadits tentang pertanyaan Allah kepada para hambanya di yaumul kiamat diantaranya empat hal:
1. Tentang umur
2. Tentang ilmu
3. Tentang harta
Pembahasan tentang umur dan ilmu telah dilewati. 

Saat ini kita memasuki pembahasan ke tiga tentang harta, dari mana harta didapatkan dan Kemana harta dibelanjakan. 

Harta sesuatu yang tidak bisa pisahkan dari kebutuhan hidup kita. Allah menjadikan Perwatakan manusia senang dan mencintai kepada harta. Bukan hanya senang biasa melainkan senang yang sangat. Sehingga hampir tidak ada orang yang diberi harta ia menolak. Meskipun dijanjikan tempat yang jauh akan ia tempuh. Ada sebuah pertanyaan, Mau kah engkau gaji sebulan 100 juta? Meskipun meninggalkan anak dan istri, maka ia akan berangkat. Karena memang didalam diri manusia ada syahwat terhadap harta. 

Dijadikan oleh Allah sesuatu yang indah dan ada nuansa kecintaan, dan ada syahwat, bersatunya tiga perkara ini dalam diri seseorang, Indah, cinta, bersyahwat akan menjadikan sebuah selera yang sangat tinggi. 

Sesuatu yang indah belum tentu ia cintai. Sesuatu yang ia cintai belum tentu ia bersyahwat. Orang tua kita kita cintai tapi kita tidak bersyahwat kepadanya. Tapi ini tergabung ketiga hal ini. Apa itu? Istri, anak-anak, harta benda, baik itu emas perak, kuda pilihan, sawah ladang yang ini merupakan harta dunia.

 Dan Allah menyebutkan, manusia, mereka sangat mencintai harta yang sangat besar dan terhadap harta, sungguh kecintaannya itu sangat besar, sehingga orang-orang yang mereka tidak memiliki kekuatan iman dan tidak memiliki kekuatan dalam hatinya akan ia kerahkan seluruh tenaga terhadap yang ia syahwatkan berkaitan dengan masalah harta.

Sehingga Rasulullah mengatakan, seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah harta ia pasti mencari yang ketiga, pasti! Gak ada istilah puas, kecuali orang yang Allah rahmati, yang memiliki hati yang qanaah. 
Bahkan tidak akan memenuhi hawa nafsu anak Adam hingga lambungnya dipenuhi tanah alias mati.

Perasaan manusia terhadap harta sering sekali membuat manusia ia terfitnah, oleh karena itu manusia diperingatkan wahai manusia takutlah kalian terhadap harta dan dunia. Bahkan Rasulullah mengingatkan, setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku ini adalah harta. Sehingga harta merupakan fitnah yang sangat besar, dari Allah subhanahu wa ta'ala. Sehingga agama kita secara rinci memberikan nasihat bagaimana kita berinteraksi dengan harta. Ketika manusia terfitnah dengan harta maka akan menimbulkan kerusakan kerusakan. 

Diantara fitnah harta ketika muncul 
1. ia akan berbuat melampaui batas, berbuat kerusakan di bumi. 
Sebagaimana yang Allah katakan, seandainya Allah bentangkan, bukakan untuk manusia itu harta, rezeki, niscaya dia akan melampaui batas di muka bumi. Akan tetapi Allah menurunkan kadar keberadaan harta untuk kelengkapan hidup manusia dengan yang Allah takar. Allah telah sediakan cadangan buat manusia dari awal diciptakan sampai kiamat. Tidak ada satupun makhluk melata yang tidak ditanggung rezekinya. Masalahnya Allah tidak langsung memberikan rezekinya langsung. Coba jika Allah memberikan suatu negara cadangan minyaknya banyak, pasti akan terbakar, ini semua Allah yang atur, yang menjadi masalah manusia menjadi tamak dengan cadangannya. Maka Yang dituntut adalah manusia bertaqwa dan mengelola dengan benar. 

Manusia itu cenderung kalau diberikan kepadanya oleh Allah ia melampaui batas. Seandainya manusia diberi rezeki ia akan membuat kerusakan. Dimana-mana orang yang berbuat kerusakan itu orang kaya bukan orang miskin. Sehingga berbuat rusak, dholim, banyak penyimpangan dengan harta yang ia miliki. 

Diantara penyimpangan karena harta, 
2. Menjadikan orang ini menjadi penghalang kebenaran. Mereka inilah para mutraf yang menjadi penghalang kebenaran. Tidaklah kami utus juru peringat disebuah wilayah untuk mengingatkan agama Allah, kecuali para mutraf, orang yang tenggelam dengan kemewahan, gelombang harta, mereka mengatakan kami mengingkari apa yang kalian bawa. Diantara mereka berbuat begitu karena hartanya. Mereka mengatakan kami itu orang yang lebih banyak hartanya dan anaknya. Sehingga hartanya membuat ia sombong, membuat hatinya tinggi hati. Maka lihat bagaimana qarun dengan hartanya maka ia sombong dan menolak kebenaran dan berbuat kerusakan di muka bumi, dan Allah jadikan pelajaran bagi manusia, kami tenggelamkan qarun dan rumahnya di perut bumi. Bahkan ketertipuan manusia denegan syaitan atas hartanya, menganggap mereka tidak di azab. 
Maka Allah tegaskan bukanlah harta kalian dan anak kalian yang membuat kalian dekat dengan Allah melainkan orang yang melakukan amal salih. 

Diantaranya fitnah karena harta 
3. Membawa kepadanya membabi buta dalam mengumpulkan harta. Sebagaimana Allah sebutkan dalam ayatnya yang mulia, bahkan bukan hanya orang awam yang mereka rakus pada harta akan tetapi orang yang faham tentang agama Allah, dan merasa menjadi orang salih, jika terfitnah dengan harta ia akan mengumpulkan dengan membabi buta. 

Allah katakan kepada orang beriman, wahai kaum mukminin jangan kalian makan harta diantara kalian dengan cara batil. Ini larangan langsung Allah tujukan kepada kaum mukminin, lalu Allah berikan pelajaran, orang yang sudah beriman jangan merasa aman dan terbebas dan fitnah dunia lalu mereka mencari harta dengan cara yang haram. 

Allah katakan wahai orang yang beriman, sesunggunya banyak orang berilmu dari kalangan Yahudi dan para ahli ibadah dari kalangan Nasrani, kebanyakan mereka ini, sungguh benar-benar memakan harta manusia dnegan cara yang batil. Sehingga agama itu sekedar jadi kedok. Kedok untuk menyedot hartanya manusia. Ini kejahatan yang sangat nyata, kejahatan terselubung. Kalau dikalangan Bani Israil telah terjerumus, wahai kaum mukminin jangan merasa aman, akan ada kaum mukminin yang mengikutinya. 

Benar-benar kalian kaum muslimin akan ada Diantara kalian mengikuti orang sebelum kalian sejengkal-demi sejengkal,melangkah demi selangkah sampai ke lubang dop, yang kecil kalian akan mengikuti. Para sahabat mengatakan apakah Yahudi dan Nasrani kata Rasulullah siapa lagi?

Kalau sudah terfitnah harta maka ia akan menghalangi manusia dari kebenaran. Orang yang jualan bidah, Syirik, gak mau menerangkan manusia, ajaran benar bahkan menjadi penghalang utama manusia akan sunnah. Karena kalau yidak maka habis lahan makannya. Karena ia pun akan menggusur acara yang ad atuntunannya dengan yang tidak ada tuntunannya. Seperti ini ada dikalangan Yahudi dan ada di kalangan kaum mukminin. Sehingga banyak orang berlomba jadi ulama bukan untuk mengajar manusia dari bahaya Syirik,bidah, tapi hanya untuk mengejar dunia. 

Fitnah dunia ini akan menimbulkan bahaya yang besar, nabi katakan benar-benar akan datang waktunya manusia tidak peduli dari mana jalan ia dapatkan hartanya apakah dengan cara halal atau harama. Kalau sudah seperti itu kondisinya akan terjadi apa yang dikatakan nabi, dua serigala yang lapar, binatang buas yang lapar, keduanya dilepas pada seekor kambing, sudah perutnya lapar, jatahnya cuma satu, bahaya. Tetapi kata nabi ini tidak lebih berbahaya dibandingkan orang yang lebih rakus dengan harta. Dibandingkan orang yang lebih rakus dengan harta dan gila hormat karena agama. Diterangkan Ibnu rajab, orang dimuliakan di dunia itu dengan dua cara. Pertama, harta. Sehingga kemana-mana orang menghormatinya. Tapi kalau sudah miskin tidak dihormati. Karena hartanya ini yang menyihir orang menghormatinya. Sehingga orang berlomba untuk memiliki harta. Terkadang mending utang Numbuk agar bisa tampil punya mobil. Si fulan mobilnya bagus, tapi utangnya mentereng. Dia pengen orang menilai dirinya sehingga ia kumpulkan dnegan cara yang tidak karuan. Orang yang gila harta bisa terjebak dalam dua keadaan. Pertama karena ia gila harta jika waktu itu bisa 27 jam ia akan buat kerja 27 jam. Ia gila kerja, kalau gak kerja gila. Dia kerja untuk mendapatkan dunia. Orang seperti ini sekalipun tidak terjerumus perkara haram, waktunya habis untuk melakukan ketaatan.. Habis hanya mengumpulkan harta. Ini celaka. Untuk apa? Kalau sudah terkumpul banyak juga makan cuma sepiring dua piring. Pakaian juga satu dua pakaian. Kerja seperti itu yang menikmati juga orang lain. Kedua. Orang yang gila harta ia tidak tahu cara mengumpulkannya. Ia membabi buta. Babi saja sudah jelek apalagi buta. Cara lainnya ia jadikan agama untuk ia dihormati. Ia cari agama bukan untuk bertaqwa kepada Allah. Para salaf tidak ingin terkenal Diantara manusia. Jika ia termahal ia langsung hilang. 
Contoh menerobos roda pesawat buat terkenal. Masya Allah. 

Ada salaf bernama yazid bin aswath. Khalifah yang negaranya mengalami paceklik, kemudia ia tahu ada orang salih namanya yazid bin aswath, tapi orang tidak tahu. Lalu khalifah memanggil namanya sampai tiga kali dan mengatakan demi kaum muslimin doakan lah  agar hujan turun. Allah hujan turun dan ia pun terkenal. Lalu ia berdoa kepada Allah, matikan lah aku ya Allah, dan seminggu kemudian ia mati karena ia tidak mau terfitnah dengan dunia.